Problem
of Takdir
Perlu
diketahui bahwa masih terdapat kemusykilan di dalam konsep iman kepada takdir,
tapi sesungguhnya bukan suatu kemusykilan. Hal tersebut ialah pertanyaan
seseorang,
”Jika
perbuatan saya merupakan bagian dari takdir Alloh, mengapa saya disiksa jika
melakukan maksiat, padahal perbuatan maksiat juga bagian dari takdir Alloh?”
Jawaban atas pertanyaan ini ialah,
”Tidak
ada alasan bagimu untuk melakukan maksiat dengan berlindung dibalik takdir
Alloh, karena Alloh tidak pernah memaksamu untuk melakukan maksiat. Pada saat
melakukan maksiat, kamu tidak tau bahwa hal tersebut ditakdirkan padamu, karena
sesungguhnya manusia tidak akan mengetahui takdirnya kecuali setelah terjadi.
Seandainya engkau sudah tau, lalu mengapa sebelum melakukan maksiat engkau
tidak menentukan bahwa Alloh menakdirkanmu melakukan ketaatan, sehingga engkau
melakukan ketaatan, sebagaimana didalam urusan duniawi, kamu berusaha melakukan
hal yang terbaik dan menghindari hal-hal yang buruk.
Mengapa engkau tidak memperlakukan
hal sama untuk urusan akhiratmu. Seandainya ada seseorang diberitahu bahwa
untuk ke Mekkah ada dua jalan, yaitu jalan yang aman dan mudah serta jalan
yang menakutkan dan sulit. Saya tidak percaya kalau orang tersebut akan
menempuh jalan yang menakutkan dan sulit seraya berkata,”Hal ini telah
ditakdirkan kepada saya”. Akan tetapi, pastinya dia akan memilih jalan yang
aman dan mudah. Hal ini tidak ada bedanya dengan seandainya dikatakan padamu,”Ada
jalan menuju surga, juga ada jalan menuju neraka”. Jika engkau menempuh
jalan ke neraka, berarti kamu sama dengan orang yang memilih jalan yang
menakutkan dan terjal. Lalu mengapa engkau merelakan dirimu menempuh jalan ke
neraka dan meninggalkan jalan ke surga. Dan seandainya saja manusia dapat
menjadikan takdir sebagai hujjah untuk melakukan kemaksiatan, maka hujjah
ini tidak dapat meniadakan diutusnya para Rasul.
Alloh berfirman
dalam Surat An-Nisa ayat 65.
Iman kepada takdir
tidak akan sempurna tanpa keempat hal ini
1.
Beriman
bahwa Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun
terperinci
2.
Beriman
bahwa Alloh menulis takdir segala sesuatu di Lauh Mahfudz
3.
Beriman
bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak Alloh
4.
Beriman
bahwa Alloh adalah pencipta segala sesuatu\
hilap t d cantumkn pengarang na
BalasHapushehe