Kamis, 14 Mei 2015



Problem of Takdir
Perlu diketahui bahwa masih terdapat kemusykilan di dalam konsep iman kepada takdir, tapi sesungguhnya bukan suatu kemusykilan. Hal tersebut ialah pertanyaan seseorang,
”Jika perbuatan saya merupakan bagian dari takdir Alloh, mengapa saya disiksa jika melakukan maksiat, padahal perbuatan maksiat juga bagian dari takdir Alloh?”
            Jawaban atas pertanyaan ini ialah,
”Tidak ada alasan bagimu untuk melakukan maksiat dengan berlindung dibalik takdir Alloh, karena Alloh tidak pernah memaksamu untuk melakukan maksiat. Pada saat melakukan maksiat, kamu tidak tau bahwa hal tersebut ditakdirkan padamu, karena sesungguhnya manusia tidak akan mengetahui takdirnya kecuali setelah terjadi. Seandainya engkau sudah tau, lalu mengapa sebelum melakukan maksiat engkau tidak menentukan bahwa Alloh menakdirkanmu melakukan ketaatan, sehingga engkau melakukan ketaatan, sebagaimana didalam urusan duniawi, kamu berusaha melakukan hal yang terbaik dan menghindari hal-hal yang buruk.
            Mengapa engkau tidak memperlakukan hal sama untuk urusan akhiratmu. Seandainya ada seseorang diberitahu bahwa untuk ke Mekkah ada dua jalan, yaitu jalan yang aman dan mudah serta jalan yang menakutkan dan sulit. Saya tidak percaya kalau orang tersebut akan menempuh jalan yang menakutkan dan sulit seraya berkata,”Hal ini telah ditakdirkan kepada saya”. Akan tetapi, pastinya dia akan memilih jalan yang aman dan mudah. Hal ini tidak ada bedanya dengan seandainya dikatakan padamu,”Ada jalan menuju surga, juga ada jalan menuju neraka”. Jika engkau menempuh jalan ke neraka, berarti kamu sama dengan orang yang memilih jalan yang menakutkan dan terjal. Lalu mengapa engkau merelakan dirimu menempuh jalan ke neraka dan meninggalkan jalan ke surga. Dan seandainya saja manusia dapat menjadikan takdir sebagai hujjah untuk melakukan kemaksiatan, maka hujjah ini tidak dapat meniadakan diutusnya para Rasul.
Alloh berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 65.

Iman kepada takdir tidak akan sempurna tanpa keempat hal ini
1.    Beriman bahwa Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun terperinci
2.    Beriman bahwa Alloh menulis takdir segala sesuatu di Lauh Mahfudz
3.    Beriman bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak Alloh
4.    Beriman bahwa Alloh adalah pencipta segala sesuatu\